Sebarkan berita baik ini

Mustofa

Mustofa Romdloni
Aktivis TDA Bekasi

Saya terbersit untuk menulis tentang berapa nilai kredibilitas kita dalam dunia bisnis, gara-gara setelah memiliki rencana untuk mengekspansi salah satu perusahaan, di mana dalam rencana ini, ide yang muncul diantaranya adalah, memasukkan satu perusahaan besar sebagai investor, dengan merelakan sekian persen kepemilikan saham kepada investor tersebut, dengan syarat mereka harus memasukkan dana senilai sekian rupiah dan turut membantu kemajuan perusahaan dengan sumber daya yang mereka miliki.

Sudah ada investor dari grup perusahaan besar yang berminat dan siap mengucurkan dana, bahkan menyediakan lahan untuk ekspansi tersebut. Tahapan pertemuan dan saling kunjung sudah dilakukan beberapa kali, buka-bukaan laporan keuangan dan indikasi dana yang dibutuhkan serta kisaran persen saham yang akan dilepas pun sudah disampaikan. Selanjutnya memasuki tahapan yang lebih detil yakni kami harus menyodorkan angka pastinya terkait prosentase saham yang dilepas, dan nilai dana yang akan dimasukkan.

Diskusi di internal kami menjadi seru dan rumit, ketika akan menentukan nilai yang pas untuk prosentase kepemilikan saham yang akan kami lepas, serta nilai dana yang akan kami minta. Karena di sini bukan hanya mempertimbangkan nilai aset riil (tangible asset) ataupun angka-angka yang tercantum dalam neraca aktiva-passiva. Tetapi juga aset yang tidak berwujud fisik, atau lazim disebut intangible asset, dan intangible asset ini nilainya bisa jauh lebih besar daripada aset riilnya. Karena intangible asset bisa mencerminkan posisi bisnis saat ini, dan proyeksi perusahaan kedepan. Dan hal-hal seperti itu akhirnya berujung pada nilai kredibilitas perusahaan dan pemiliknya secara keseluruhan.

Sebagai contoh, salah satu intangible asset adalah merek, saya kutip dari buku Sederhana tapi Dahsyat halaman 156, bahwa tahun 2012 nilai merk Apple adalah sekitar Rp. 827,5 trilyun, hanya untuk mereknya saja, belum termasuk aset riil, seperti fasilitas produksi, bangunan kantor, uang cash, dan sebagainya.

Bekerjasama dengan partner pemilik modal atau investor sudah saya alami beberapa kali, bahkan beberapa tahun lalu, di tahap awal saya memulai usaha formal, saya punya pengalaman bagaimana meyakinkan CEO dan pemilik saham terbesar  sebuah perusahaan yang sudah go public di Kuala Lumpur untuk bersedia berinvestasi dan membangun fasilitas produksi di Indonesia dengan nilai jutaan USD.

Proses meyakinkan investor ini kurang lebih selalu sama, bahwa salah satu aset terbesar untuk meyakinkan pemodal, yang dimiliki pengusaha ternyata adalah kredibilitas dari kita, sang pemilik bisnis itu sendiri. Atau bahasa sederhana yang dahulu sering kita dengar yakni “bisnis adalah kepercayaan”, yang bukan berdasar kemampuan lobi semata, tetapi lebih kepada penilain seberapa kredibel kita dan perusahaan kita.

Kalau meminjam istilah Chairul Tanjung, kredibiltas itu adalah menjadi dipercaya, yang merupakan perpaduan antara kejujuran dan amanah, yakni kemampuan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Dan ini adalah sikap yang melekat dalam diri pengusaha disemua level bisnis, entah start up, maupun sudah jadi konglomerat sekalipun.

Coba kita tengok kisah dari Teddy P. Rachmat pemilik Triputra Group yang tahun 2011 saja memiliki omset 40 triliun. Karir besarnya sebagai pengusaha dimulai ketika tahun 1998, Teddy mengundurkan diri dari Astra dan akan membesarkan Adira Finance, perusahaan pembiayaan yang didirikan ayahnya di tahun 1990 dengan skala bisnis yang belum besar.

Maka pengalaman dan kesuksesan Teddy ketika berkarir sebagai pimpinan Astra, membuat dia memiliki kredibilitas tinggi, sehingga Chairul Tanjung (Bank Mega) dan Arwin Rasyid (Bank Danamon), bersedia memberikan dana pinjaman sebesar masing-masing 2 triliun rupiah. Wow, nilai kredibilitas seorang T.P Rachmat kala itu mencapai 4 triliun rupiah. Nah, kalau nilai kredibilitas seorang Chairul Tanjung kira-kira berapa ya sekarang?

Ini adalah kenyataan, bahwa dalam dunia bisnis, nilai kredibilitas bisa berbanding linier dengan nilai rupiah. Sebagai contoh, ketika kita para pengusaha mencari partner atau pemodal, mencari order, mencari pinjaman, entah dari teman, sanak saudara , lembaga keuangan, ataupun pemasok, maka tingginya kredibilitas kita akan sebanding dengan kepercayaan, nilai proyek atau order, dan besarnya dana yang pihak lain percayakan kepada kita.

Lantas dari mana datangnya kredibilitas ? Tentu saja dari rekam jejak, kalau meminjam istilah Brian Koslow, “Semakin Anda bersedia menerima tanggung jawab atas tindakan-tindakan Anda, maka akan semakin besar kredibilitas yang Anda miliki”. Saya sangat setuju, bahwa ketika kita semakin berani menerima tanggung jawab yang lebih besar, dan mampu menyelesaikannya maka kredibilitas yang kita miliki juga semakin besar. Sikap yang benar, pengalaman, dan kepiawaian atau keahlian mengelola dan membesarkan bisnis adalah sumber kredibilitas.

Itulah kenapa, tidak banyak pengusaha yang bisa berkembang dari level usaha mikro-kecil (informal), menjadi usaha menengah dan besar. Ternyata mereka para pengusaha kecil ini, tidak mampu meningkatkan level kredibilitasnya. Berkali-kali saya menjumpai tipikal pengusaha-pengusaha kecil seperti ini, berada di sekitar saya, bahkan di kalangan teman-teman saya sendiri di mana saya berhubungan dengan mereka. Pengusaha kecil yang bermimpi menjadi pengusaha besar, tetapi dari perilakunya tidak kredibel, jika tidak diubah dan membereskan diri sendiri, maka saya jamin mimpi jadi pengusaha yang naik kelas hanyalah halusinasi. Bermimpi menemukan sumber modal atau investor besar, tetapi dalam mengelola bisnis kecil saja mereka tidak kredibel, bagaiman mungkin ?

Sewaktu saya memulai usaha dahulu, untuk menangani order yang belum besar saja, seringkali saya mengandalkan pinjaman teman sebagai modal, dari nilai beberapa juta rupiah saja, kemudian dana selalu saya kembalikan tepat waktu dengan pembagian hasil yang disepakati. Bersedia dipotong tagihan oleh pelanggan, ketika ketepatan pelayanan tidak sesuai yang dijanjikan, dan seberapapun susahnya kondisi cash flow, maka kewajiban kepada pihak lain selalu berusaha dihadapi dan tunaikan sebaik mungkin.  Seiring berjalannya waktu dan kepiawaian dalam membangun bisnis, kemudian nilai kepercayaan dari pihak lain meningkat sampai puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran dan jutaan USD.

Salah satu pihak yang menjadi pendukung terbesar dalam bisnis yang paling saya rasakan adalah, para pemasok bahan baku. Nah para pemasok ini, adalah cermin bagaimana pihak lain memberikan kepercayaan kepada kita. Karena pemasok biasanya ketika memberikan pinjaman barang, tidak selalu meminta jaminan, hal ini berbeda dengan bank atau lembaga keuangan lainnya. Pemasok lebih mengutamakan kepercayaaan karena kemampuan kita mengelola bisnis dan rekam jejak, bagaimana kita menyelesaikan tanggung jawab dalam bekerjasama dengan mereka.

Berapakah nilai order yang pelanggan percayakan kepada kita?
Berapakah nilai barang yang pemasok percayakan kepada kita?
Berapakah nilai dana yang diberikan oleh teman dan saudara,  investor, dan lembaga keuangan, dalam mempercayakan dananya untuk kita kelola ?

Berapapun nilai itu, pasti sebanding dengan berapa nilai kredibilitas kita saat ini ? Seberapa besar tanggung jawab yang bisa kita emban, serta seberapa jujur dan amanah kita dalam menunaikan tanggung jawab tersebut dengan sebaik-baiknya.

 

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith

 

 


Sebarkan berita baik ini