Sebarkan berita baik ini

adit 3

Aditya Hayu Wicaksono
Direktur Keuangan TDA

Teman-teman tahu Sebastian Vettel? Dia adalah juara dunia Formula 1, balapan mobil yang paling wahid di dunia ini. Dia menjuarai selama 3 tahun terakhir ini secara berturut turut. Sejak kecil dia telah dilatih untuk menjadi seorang pembalap dan pada puncaknya saat ini dialah yang menjadi calon pengganti legenda hidup Formula 1 lainnya dari Jerman, yaitu Michael Schumacher .

Lalu apa hubungannya balapan Formula 1 dengan bisnis ya? Bisnis itu bisa seperti Formula 1. Butuh proses. Bisnis memerlukan pengalaman, skill dan tools lain yang mendukung untuk bisa melesat cepat seperti mobil Formula. Di balapan mobil juga seperti itu, tidak hanya skill pembalapnya saja yang diperlukan, tapi mesinnya, kendaraannya, faktor angin yang harus disesuaikan dengan bentuk kendaraannya juga berpengaruh, sangat detiil. Coba bayangkan kalau Vettel yang juara dunia ini balapan naik mobil Avanza, atau Kijang atau apalah merk lainnya, ya kalah dengan pesaingnya.

Begitu juga dengan seorang supir pribadi disuruh balapan dengan memakai mobil Formula 1, walaupun mobilnya sekelas Ferrari atau Mercedes ya tetap saja kalah, atau bahkan menabrak. Begitulah bisnis. Bisnis membutuhkan proses untuk bisa melaju kencang. Anda bisa saja melaju kencang di jalanan yang padat dengan skill yang bagus, tapi itu bahaya dan akhirnya nanti bisa jadi kecelakaan.

Bisnis bukanlah adu cepat untuk membeli suatu gaya hidup atau kemewahan belaka. Jika teman teman ingin membeli hal hal tersebut ya bisa saja, namun ketika bisnis anda sudah berjalan dengan baik. Bisnis itu ibarat perjalanan yang tiada henti. Saya masih ingat ketika saya kecil di Jakarta, hanya ada 3 pemain besar supermarket atau penjualan ritel sehari hari. Yaitu Hero, Gelael dan satu lagi Kemchicks.

Apa yang terjadi setelah berpuluh puluh tahun? Hero saat ini pun jarang kita melihatnya kecuali di beberapa tempat, dan bahkan telah berganti kepemilikan menjadi Giant, sedangkan Gelael pun bahkan hanya ada beberapa di Jakarta, dan 1 yang saya tahu di Bali. Tapi Kemchicks yang dulunya tetap hanya satu outlet namun sampai dengan sekarang outletnya pun tetap ada dan bertambah pula, tidak banyak tapi semakin besar dan kokoh, dan pemiliknya tetap sama yaitu Bob Sadino.

Bisnis itu pilihan, apapun jalan dan strateginya akan ada resikonya. Dan bisnis itu juga harus kokoh seperti sebuah pohon besar yang akarnya kuat dan tajam menusuk di perut bumi. Untuk bisa menjadikan bisnis itu kokoh memerlukan waktu yang lama sekali. Bahkan Sampoerna harus 2-3 generasi sehingga mencapai kondisi yang besar sekali, begitu juga dengan grup besar seperti Indofood, Mayora, Gudang Garam, Wings Group dan lain sebagainya.

Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda pada setiap jamannya, sehingga seorang pemilik bisnis baik itu masih kecil maupun sudah besar akan dituntut untuk terus menerus mengurusi bisnisnya (in business), dan itulah yang benar. Keluarga Salim, pemilik Indofood group akan tetap mengurusi bisnisnya, walaupun Indofood sudah menjadi raksasa dunia.

Bisnis tidak bisa dibangun dengan singkat, perlu proses, bahkan mie instan pun memerlukan proses untuk bisa menjadi sebuah mie yang layak dimakan. Jika anda ingin membeli gaya hidup mewah saya menyarankan jangan terjun jadi pebisnis. Tapi apakah pebisnis tidak bisa menjadi seorang yang berkemewahan? Bisa dan sangat bisa, namun hidup kita tidak hanya untuk hari ini, bisnis kita tidak untuk 5 atau 10 tahun ke depan, tapi kita harus memikirkan sampai dengan anak, cucu, cicit kita kalau bisa, kecuali Anda adalah anak seorang raja, itu terserah Anda.

Sebanyak apapun uang Anda, jika tidak memiliki skill bisnis yang memadai, maka hancurlah bisnis Anda. Seperti tadi saya mengumpamakan seorang supir pribadi yang mengendarai sebuah Formula 1, apakah bisa menang? Kecelakaan pasti. Seorang juara dunia saja pernah kecelakaan, apalagi yang tidak punya skill sama sekali.

Jika niat Anda berbisnis adalah untuk masa depan yang panjang, maka Anda akan berpikir puluhan ribu kali untuk melakukan tindakan penipuan atau hal hal yang tidak benar lainnya. Menipu, mencuri atau apapun itu dengan niat hanya untuk hidup mewah akan tidak bisa lama kita nikmati, kecuali Anda memiliki kesaktian yang bisa menghilang dan terbang seperti Son Goku ya tidak apa apa.

Jadi nikmati saja prosesnya, dan jangan menyamakan diri kita dengan yang lain, karena setiap orang berbeda. Ada 2 atau 3 orang yang memulai balapan (baca : bisnis) dalam waktu yang sama, tapi yang satu melesat jauh ke depan, yang satu di tengah dan yang satu lagi jauh tertinggal di belakang, ingat cerita saya soal Kemchicks, Hero dan Gelael?

Mungkin yang di belakang disuruh Tuhan untuk terus belajar, dan suatu saat dia akan menjadi pemenang dan menyalip yang di depan, dan mungkin yang pertama suatu saat berbuat kesalahan sehingga mobilnya terjadi kerusakan teknis. Nikmati saja, dan jika kita memiliki niat yang baik dan terus belajar serta memperbaiki bisnis kita sehingga bisnis kita bisa menjadi kendaraan yang super cepat, maka andalah yang menjadi pemenang.

Sekali lagi saya menekankan kepada teman teman yang sedang dan mau menjadi pengusaha, bisnis itu bukanlah perlombaan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bisnis adalah suatu cara untuk kita membantu sesama, dan nikmati saja prosesnya, jangan terburu buru untuk mengejar kemewahan, hiduplah sederhana (coba tiru Warren Buffet).

Keep fighting guys.

 

Aditya Hayu Wicaksono

Direktur Keuangan TDA

 


Sebarkan berita baik ini