Sebarkan berita baik ini

Hendro TR

Hendro Tri Rachmadi

Pernahkah kita melakukan hal ini, menuangkan teh yang ada di Teh Botol Sosro ke gelas biasa, tanpa es atau tambahan lainnya? Bagaimana rasanya? Pernahkah Anda menuangkan Susu Ultra Coklat ke gelas biasa, tanpa tambahan apa pun? Bagaimana rasanya? Pernahkah Anda membeli kopi dari Starbuck, lalu dibawa pulang. Di rumah Anda hidangkan dengan gelas biasa, tanpa label apa-apa.

Dan masih banyak lagi. Jika kita mau jujur, pasti ada sesuatu yang “hilang” ketika kita melakukan hal-hal tersebut. Itulah kekuatan sebuah desain kemasan. Desain kemasan bekerja memberi sensasi rasa tertentu terhadap produknya. Ia bekerja menambahkan konteks pada konten yang sedang kita nikmati. Teh dan susu coklat yang kita minum di gelas, tanpa botol dari Sosro-nya atau tanpa kemasan kotak dari Susu Ultra-nya akan kehilangan “rasa” tertentu. Dan ini bukan omong kosong, sebab memang manusia itu adalah “makhluk persepsi”. Di mana yang bermain adalah persepsi.

Anda membeli kopi di Starbuck lalu Anda bawa pulang? Mending beli Moccachino aja, seduh sendiri di rumah 🙂 Yang mahal dari Starbuck ya “desain kemasan” gerainya, sensasi minum disananya, kalau dibawa pulang, Anda sudah melakukan pemborosan hingga lebih dari setengah harganya! Kalau makan fried chicken seperti KFC, CFC, Texas, dll yang paling enak justru karena makan di sana menikmati restorannya. Makan sambil dilihat orang yang lalu lalang (kata orang mirip aquarium).

Tanpa kemasan, shampo, body shower, dan kawan-kawannya “hanyalah” cairan kental berwarna putih atau biru muda. Yang membuat mereka menjadi lebih powerful adalah desain kemasannya. Klaim-klaim soal kelembutan, keharuman, bisa menghilangkan kuman, ketombe, dll adalah klaim dari konten yang masih perlu dibalut konteks. Beruntunglah perusahaan-perusahaan besar “sebangsa” Unilever yang bisa membuat molding sendiri bagi kemasan produknya dan membuat desain kemasannya kian “ciamik”. Semua ini sangat membantu meningkatkan persepsi konsumen terhadap keunggulan produk mereka.

Bagaimana Sebuah Desain Kemasan Memberikan Sensasi

Sebagai marketer atau pebisnis masalah pentingnya desain kemasan ini seharusnya sudah “lewat”. Sekarang sudah saatnya fokus diarahkan mencari positioning yang tepat pada produknya dan membahasakan positioning itu dalam desain kemasan yang baik dan profesional. Jika di saat-saat ini banyak produk sudah melakukan “perang persepsi”, maka sungguh sangat ketinggalan jika kita masih bermodalkan keunggulan konten “doang”.

Salah satu keunggulan jualan produk adalah bisa diproduksi massal. Namun kelemahannya, ya produknya sebenarnya “begitu-begitu” saja, mirip-mirip saja. Kalau Anda punya keunggulan, demikian pula produk lain. Maka PR selanjutnya adalah bagaimana kita bisa membangun persepsi, sebuah positioning yang melekat di benak konsumen dan bagaimana mengkomunikasikan positioning tersebut. Salah satunya dengan desain kemasan tersebut.

Adalah sangat menyedihkan jika kita menemui produk-produk bagus, berkualitas tinggi, bahkan sebagiannya lebih bagus dari produk-produk branded sekali pun namun tidak dikemas dengan baik. Hal ini membuat produk mereka kurang “greget” di pasaran. Laku sih laku, tapi kurang booming. Sebabnya sederhana, mereka tidak berinvestasi secara khusus di desain kemasan-nya. Bagi mereka berinvestasi pada kemasannya saja (pada material kemasannya saja) sudah cukup. Dan ini terjadi bisa karena dua hal : ketidaktahuan pentingnya desain kemasan atau “tidak mau diberitahu”.

Beberapa kasus sering terjadi adalah beberapa pebisnis merasa sudah sangat sukses dengan penjualan yang didapatkannya dan tidak melakukan pengembangan lebih lanjut termasuk pada sesuatu yang bisa meningkatkan added value produknya. Desain kemasan yang profesional adalah cara untuk meningkatkan added value saat pengembangan konten produk sudah mulai jalan di tempat. Sebab desain kemasan yang profesional bisa meningkatkan “kemanfaatan” produk walau hanya secara persepsi. Namun semua tentu sah-sah saja, toh mayoritas konsumen hidup dalam dunia persepsi, bukan dunia sebenarnya.

Pilihan warna dominan, tipografi (font/huruf), bentuk, ilustrasi gambar sampai dengan lay out adalah hal-hal visual yang mempengaruhi sensasi rasa dari produk inti kita. Dengan menggunakan foto busa sabun, kita diperlihatkan dan dipersepsikan akan kesegaran. Dengan diperlihatkan kopi atau susu yang sedang dituangkan, kita bisa berimajinasi soal lezatnya rasa minuman dalam kemasan tersebut. Contoh-contoh itu adalah sebagian kecil bagaimana rasa dipengaruhi sensasi visual. Belum lagi kita bicara soal bentuk (shape) dari kemasan yang bisa meningkatkan citra produknya.

Dari paparan di atas, mari kita lebih peduli pada kemasan produk kita. Mari beri konsumen “sensasi rasa” yang membuat mereka terikat secara emosional dengan produk kita. Sekali lagi, bukan berarti kualitas konten tidak perlu. Ini hanya upaya kita menambah added value produk agar bisa menang di pasaran. Ujung-ujungnya kan peningkatan omset juga. Kalau konsumen sudah terikat, loyal, repet order akan terjadi. Bahkan jika kita beruntung, mereka bisa jadi brand ambassador bagi produk kita sehingga produk kita akan dipromosikan secara gratis oleh konsumen kita sendiri.

 

Hendro Tri Rachmadi

www.SimpleStudioOnline.com


Sebarkan berita baik ini