Sebarkan berita baik ini

Coach FRApa persamaan yang dimiliki para pemimpin besar seperti Soekarno, JFK ataupun Abraham Lincoln? Yang paling mudah dilihat adalah: keberanian. Tanpa keberanian, seorang Soekarno tidak akan melakukan perlawanan kepada pemerintahan kolonial bahkan pada saat masih menjadi mahasiswa di Bandung.

Tanpa keberanian, seorang JFK tidak akan dapat mengatasi krisis penempatan misil nuklir Uni Soviet di Kuba. Tanpa keberanian, seorang Abraham Lincoln mungkin akan berdiam diri atas praktek perbudakan di Amerika Serikat. Mereka semua punya kesamaan: berani untuk berdiri dan bertindak pada saat yang tepat, sekalipun risiko besar menghadang di depan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa memiliki keberanian seperti para pemimpin besar tadi? Dalam dunia bisnis, betapa sering kita menghadapi situasi yang bahkan risiko nya jauh di bawah peristiwa-peristiwa besar yang mengubah sejarah. Namun tetap saja kita tidak berani dalam membuat keputusan.

Karena tidak berani, akibatnya kita kadang tidak tegas dalam membuat keputusan. Antara berani dan tidak berani. Sudah diputuskan tapi tidak dilaksanakan. Sudah dilaksanakan, tapi karena banyak yang menilai keputusan adalah salah, maka ditunda. Maju, kemudian mundur. Maju lagi, mundur lagi. Mirip menari poco-poco.

Bayangkan kalau pemimpin bisnis tidak memiliki keberanian. Maka sebuah produk bisa-bisa menggantung, entah kapan akan diluncurkan. Sudah mengalokasikan dana untuk pembelian asset tapi tidak berani mengeksekusi. Bahkan bisa terombang-ambing antara mengikuti langkah kompetitor masuk ke segmen pasar tertentu, atau bartahan dengan segmen pasar yang ditekuni sekarang. Karena poco-poco, akhirnya tidak kemana-mana.

Kabar baiknya adalah, keberanian bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Keberanian terbentuk seiring dengan perjalanan hidup seseorang. Keberanian bisa dilatih.

Manusia dibekali dengan rasa takut, dan rasa takut adalah bagian dari mekanisme pertahanan diri manusia. Tanpa rasa takut, maka manusia barangkali akan sering mengalami kondisi berbahaya yang mengancam hidup, tanpa dia sadari. Karenanya kita perlu rasa takut. Namun kita harus waspada supaya tidak dikendalikan rasa takut. Karena sumber ketakutan tidak ada habisnya. Ketakutan yang bersumber pada satu hal, akan diikuti dengan ketakutan yang bersumber dari hal lain, demikian seterusnya.

Kita tidak bisa berdiam diri menunggu sumber rasa takut tersebut pergi. Namun yang harus kita lakukan adalah menghadapi nya, dan berani melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Mungkin pada awalnya baru berani menghadapi sumber ketakutan yang risiko nya kecil. Namun manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa. Kita dapat terus melatih untuk lebih berani menghadapi sumber-sumber ketakutan lain yang risiko nya lebih besar. Sehingga lambat-laun semakin besar risiko yang bisa kita hadapi, dan kita akan dikenal sebagai pemimpin yang memiliki keberanian.

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA
@fauzirachmanto


Sebarkan berita baik ini