Sebarkan berita baik ini

Lunch with Bob Sadino

Muadzin Jihad bersama Almarhum Bob Sadino

 

Nyentrik, bicara blak-blakan, tapi humble, ramah, dan bersahaja. Itu kesan yang saya tangkap dari Bob Sadino. Ya kesempatan emas dan langka bisa makan siang dengan salah satu ikon kewirausahaan Indonesia itu.

Berkat kebaikan mba Naomi Susan, akhirnya saya bisa bertemu dengan beliau. Awalnya hanya untuk minta endorser untuk buku saya, Follow Your Passion, akhirnya jadi dapat kesempatan ngobrol panjang lebar dan makan siang di Kemchicks, tempat usaha beliau sejak awal mula berwirausaha.

Beliau langsung pesan dua cangkir kopi espresso special blend yang katanya hanya keluar kalau dia datang ke situ, dan mempersilakan untuk mencicipi.

Karena keramahan beliau, suasana jadi langsung cair dan obrolan mengalir santai.

“Orang kayak kamu ini langka lho”, katanya membuka percakapan. “Yang berani keluar dari comfort zone, dan berjuang untuk sesuatu yang diyakini, yang bagi orang lain mungkin belum pasti”.

“Hanya orang-orang nekat yang berani seperti itu”.

“Hehe… ga kok Om, saya ga senekad om seperti yang diceritain di buku ini”, sambil saya mengeluarkan buku kisah hidupnya “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila”. Sekalian mau minta tanda tangannya.

Setelah mencoretkan tandatangan, beliau tanya, “Oke ada yang ingin kamu tanyakan ga dari buku itu?”

Buku Bob Sadino“Takjub aja Om… kok bisa cuma dari satu rumah jualan telur, berkembang jadi mal dan apartemen seperti sekarang?”

“Saya hidup mengalir aja mas. Ga punya rencana. Seperti sungai, kan mengalir ke laut tanpa direncanakan.”

Beliau lalu minta karyawannya untuk mengambilkan map berisi kertas buram yang dia simpan di kasir resto di area Kemchicks tersebut.

“Saya kalau ngobrol biasanya sambil coret-coret.. hehe”.

Lalu dia menggambar sebuah lingkaran. Di dalamnya dia tulis LANGKAH-DO IT NOW.

“Nah ini akan menghasilkan AKIBAT-RESULT kan?”. “Bisa positif, bisa negatif”.

“Nah sekarang kamu mau pilih result yang mana?”

Saya tunjuk tanda “+” di gambar beliau. “Pasti pilih positif lah Om”.

Are you sure?” Dia menatap saya sambil terasenyum.

“Iya lah Om, mana ada orang mau hasil yang negatif”.

“Oke, sekarang apa yang kamu dapat dari hasil yang positif?”

“Perkembangan usaha, gain, profit, uang”

That’s it ‘kan? Cuma itu saja kan?”

“Sekarang, di buku kamu, kamu cerita kan kalau kamu bisa seperti ini karena menghadapi banyak kendala, tantangan, perjuangan ‘kan?”

“Kamu dapat ilmu, wawasan, pengalaman, pembelajaran dari hasil yang negatif, iya ga?”

Saya mengangguk-angguk, mengiyakan.

“Jadi sekarang kamu pilih result yang mana?”

Dengan setengah hati saya jawab, “Yang negatif Om”.

Are you sure?”, sambil tersenyum lagi.

Yah salah lagi nih kayaknya.. hehe.

“Sebenarnya, kita tidak bisa memilih result yang akan terjadi. Positif dan negatif itu pasti akan kita alami. Satu paket. Mau tidak mau. Suka tidak suka.”

Hening. Kata-katanya seperti meresap ke dalam hati saya.

“Yang bisa kita lakukan hanya melakukan dengan sebaik-baiknya. Ikhlaskan hasilnya”.

“Jadi apa pun hasilnya, positif atau negatif, buat orang goblok seperti saya, kita selalu dapat positif pada akhirnya. Jika positif kita dapat gain, profit, untung; kalau negatif, kita dapat ilmu dan pembelajaran”.
Coretan Bob Sadino“Om kenapa ga buka cabang Kemchicks yang lain Om?”

“Sebenarnya banyak yang antri menawarkan untuk membuka cabang, tapi saya tidak mau”.

“Kenapa om? kan profitnya akan semakin besar?”

“Nah, saya itu bisnis bukan untuk nyari untung, tapi nyari rugi”

“Loh?”

“Sekarang saya tanya, kalau orang usaha pasti pengen cari untung kan?”

“Pasti Om”

“Untung terus ga mereka?”

Saya menggeleng.

“Kalau saya bilang cari rugi, rugi terus ga saya?”

Geleng lagi.

“Berarti permainan kata-kata aja ya Om?”

Giliran om Bob yang menggeleng.

Dia ambil kertas. Dia tulis MIND SET-POLA PIKIR.

“Kalau kita ‘cari untung’, begitu kita rugi, mental kita down, kecewa, marah. Merasa Tuhan ga mendukung. Kalau kita mendapat untung, kita berpikir memang sudah seharusnya kita untung. Kita jadi tidak bersyukur”.

“Tapi kalau mindset kita ‘cari rugi’, kalau mengalami rugi, kita sudah siap; karena memang itu yang kita cari. Kita bersyukur sama Tuhan karena permintaan kita dikabulkan. Kalau untung, sekecil apa pun, kita akan lebih bersyukur. Kenapa? Karena itu sudah melebihi ekspektasi kita. Orang minta rugi, dikasih untung. Apalagi kalau untungnya banyak, rasa syukur kepada Tuhan jadi makin besar.”

Wow! Jegerrr… #duarr dan #jleb banget di hati saya, kata-kata beliau ini.

“Banyak orang berpikir, yang namanya profit itu adalah uang. Buat saya, rugi itu juga profit…”

“Hah!?”

“Ya, karena dari situ saya dapat pembelajaran yang banyak.”

“Ingat ini”, katanya sambil menunjuk gambar result positif-negatif tadi.

“Muadzin, saya itu mulainya dari nol besar”. Dia gambar bulatan di atas kertas. “Nol. Tidak punya apa-apa”.

“Jadi jika saya dapat untung sangat kecil, satu titik di atas nol, saya akan bersyukur. Apalagi jika untung besar”, sambil dia menggambar titik-titik di atas lingkaran tadi.

“Dan misalkan seluruh toko dan apartemen ini terbakar, seluruh yang saya punya musnah, saya tidak akan bersedih, karena toh awalnya saya memang berasal dari nol ini”.

Hening beberapa saat. Saya seperti berbicara dengan seorang sufi, batin saya.

Obrolan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan om Bob tentang bisnis saya. Setelah beberapa saat chit-chat, dia terdiam. Lalu memandang lurus ke mata saya.

“Kamu akan alami satu masalah besar di usaha Semerbak Coffee kamu, suatu saat nanti”.

“Masak sih Om?”

Beliau mengangguk. “Entah kapan. Mungkin saya sudah ga ada nanti”.

“Kok Om yakin sekali?”

“Ya, karena warna rambut kita berbeda.. haha”.

Siang itu benar-benar menjadi pengalaman berharga dan unik. Saya benar-benar bertemu dengan sosok yang berpola pikir seperti bukunya Paul Arden “Whatever You Think, Think the Opposite”.

 

Muadzin F Jihad
Founder Semerbak Coffee & Ranah Kopi
Twitter @muadzin

 


Sebarkan berita baik ini