Sebarkan berita baik ini

Coach FRSepertinya tidak ada yang salah dengan para pemimpin berkharisma yang punya pengikut demikian banyak. Setiap perintahnya didengar dan diikuti para pengikutnya. Bahkan pengikutnya rela melakukan apapun untuk membela pemimpinnya. Bagi mereka Sang Pemimpin adalah pemandu yang tahu segalanya. Tidak ada persoalan yang tidak dapat diputuskan Sang Pemimpin. Namun, ketika Sang Pemimpin tiada, para pengikutnya pun cerai-berai kehilangan panduan.

Setiap kali melakukan perjalanan ke negara-negara dengan peradaban besar di masa lalu, saya selalu terkenang dengan para pemimpinnya. Umumnya negara-negara tersebut setidaknya pernah memiliki seorang pemimpin yang kuat dan berkharisma.

Pemimpin demikian mendapatkan kedudukannya karena memang memiliki keberanian, kecerdasan dan kepandaian memanfaatkan peluang. Mereka adalah para orator hebat yang mampu menggalang pengikut dalam jumlah yang besar. Gagasan-gagasannya sangat mempesona para pengikutnya. Dan dengan kepandaiannya menyampaikan gagasan, para pengikutnya siap melakukan apapun yang dikatakan Sang Pemimpin.

Namun pemimpin-pemimpin seperti itu memiliki kelemahan. Mereka menempatkan dirinya sebagai pusat segalanya. Setiap keputusannya bersifat mutlak, sehingga mereka tidak toleran terhadap perbedaan. Mereka juga takut ketika di antara pengikutnya ada yang memperlihatkan kemampuan yang sama atau lebih dibanding dirinya. Mereka hanya butuh pengikut, mereka tidak butuh kehadiran pemimpin lain.

Maka biasanya tindakan tegas akan diambil ketika Sang Pemimpin melihat ada matahari lain di langit yang sama. Hanya boleh ada satu pemimpin, yang lain adalah pengikut. Dalam suatu masa model kepemimpinan terpusat bisa jadi efektif. Namun dalam jangka panjang, sejarah telah membuktikan bahwa model ini tidak akan bertahan. Pemimpin yang hanya membangun pengikut, suatu saat akan dilibas oleh jaman.

Ketika situasi berubah cepat, ketika tantangan-tantangan baru muncul, ketika setiap orang dalam organisasi dituntut punya inisiatif, maka model kepemimpinan terpusat justru menjadi sumber masalah. Jumlah pengikut yang banyak, tidak bisa lagi jadi leverage. Tidak heran jika di jaman modern, satu demi satu Pemimpin negara yang menerapkan model terpusat akhirnya rontok.

Dalam dunia bisnis juga berlaku hal yang sama. Salah satu klien saya pernah bercerita bahwa betapa pusingnya dia sebagai CEO harus memikirkan semua masalah di perusahannya. Karena mewarisi perusahaan keluarga yang model nya adalah terpusat, semua masalah pada akhirnya bermuara pada dirinya. Di tengah kompetisi yang semakin ketat dan menuntut gerak cepat, jelas hal ini sulit dipertahankan.

Maka saya sependapat bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melahirkan lebih banyak pemimpin baru, bukan menciptakan lebih banyak pengikut. Seperti yang dikatakan Tom Peters, “Leaders don’t create followers, they create more leaders”.

 

 

Fauzi Rachmanto
Presiden TDA
@fauzirachmanto

 


Sebarkan berita baik ini