Sebarkan berita baik ini

Bersama Para Pengusaha Korsel.

Mustofa Romdloni bersama para pengusaha Korsel.

Seminggu terakhir ini saya menyelesaikan membaca buku yang berisi kisah nyata Lee Myung-Bak, presiden Korea Selatan yang ke-17. Ini adalah buku contoh yang baru dicetak beberapa buah. Saya mendapat kiriman dari penerbit, untuk saya baca kemudian saya berikan testimoninya sebelum buku benar-benar diterbitkan dan diedarkan di toko buku.

Kisah yang ditulis langsung oleh Lee Myung-Bak ini memang luar biasa, bagaimana dia yang berasal dari keluarga sangat miskin, dan pernah bekerja sebagai tukang sampah yang mendorong gerobak beberapa kilometer tiap hari, sehingga bisa menjadi presiden Korea Selatan.

Yang sangat menarik untuk saya adalah dalam perjalanan hidupnya, Lee ternyata banyak menghabiskan waktunya, yakni selama 27 tahun dengan berkarir di sebuah perusahaan yang tengah berkembang kala itu, dan akhirnya menjadi salah satu perusahaan konglomerat terbesar di Korea Selatan, bahkan termasuk perusahaan terbesar di dunia yaitu Hyundai Group.

Lee Myung-Bak yang bekerja sangat keras memulai karir dari bawah sehingga menjadi orang nomer satu di Hyundai Construction, perusahaan induk dari Hyundai Group, yakni menjadi presiden direktur alias CEO padahal usianya baru 35 tahun, meski masih dibawah kontrol Chung Ju-Yung, sang pendiri sekaligus Chairman.

Sesudah berkarir di Hyundai dengan gemilang, kemudian dia aktif di dunia politik dan menjadi anggota senat, selanjutnya dia terpilih menjadi walikota Seoul dengan prestasi yang luar biasa yakni benar-benar bisa mengubah Seoul secara radikal dari semrawut dan macet, menjadi kota yang rapi, hijau, berkelas, minim macet dan menjadi kota bisnis dan wisata yang sangat layak dikunjungi, bahkan menjadi rujukan bagi kota-kota lain di dunia. Selesai dari tugas walikota, akhirnya Lee terpilih dengan mulus menjadi presiden Korea Selatan.

Contoh karir yang cukup sempurna karena rekam jejak dan prestasi nyata sehingga seseorang diakui dan dianggap layak menjadi wakil rakyat, dan pemimpin rakyat. Ini tentu berbeda dengan kebanyakan calon wakil rakyat dan pemimpin di Indonesia, yang belum menghasilkan kerja nyata, dan lebih membangun citra di masa-masa kampanye saja.

Selama bekerja di Hyundai antara tahun 1975 hingga 1990an, berdasar pengalaman Lee Myung-Bak, saya menyadari bahwa untuk menjadi perusahaan global ternyata diperlukan kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa. Boleh saya bilang perusahaan ini beroperasi melebihi apa yang dipikirkan oleh negaranya sendiri. Bahkan sering negara membentuk hubungan diplomatik setelah Hyundai memasuki dan melaksanakan proyek di suatu negara.

Dan peran sentral seorang CEO memang luar biasa, jauh dari yang sering disampaikan para konsultan bisnis, yakni tentang bagaimana membuat usaha yang diidentikkan pengusahanya jalan-jalan dan bisnisnya tetap jalan. Menjadi CEO yang membawa perusahaan besar dan mendunia, ternyata bukan hanya dibutuhkan kerja keras, tetapi boleh dibilang mereka rela mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawa sekalipun.

Karena pada tahun-tahun itu, untuk memperbesar pasar, perusahaan akan masuk ke negara-negara yang akan atau sedang berkembang dan masih sangat rentan pergolakan sosial politiknya. Dan CEO yang di negaranya sendiri menikmati fasilitas mewah, pada akhirnya harus memimpin langsung proses memperbesar pasar tersebut. Di Hyundai waktu itu, Lee Myung-Bak langsung terjun memasuki negara-negara yang bahkan pemerintahnya belum membuka hubungan diplomatik sama sekali.

Saya langsung merinding dan berdecak kagum, ketika membaca kisah Lee terjun langsung bak agen James Bond, memasuki Irak yang belum ada hubungan diplomasi dengan Korsel. Memasuki Irak yang cenderung punya hubungan dekat dengan Korea Utara, juga memiliki resiko yang tidak ringan. Selama berhari-hari Lee melakukan usaha masuk ke Irak tanpa visa, turun dari pesawat di Kuwait kemudian melalui jalur darat memasuki Baghdad, dan berusaha menemui orang yang bertanggung jawab terhadap proyek yang akan Hyundai kerjakan. Berhari-hari rombongan mereka di Irak, dan berusaha mencari koneksi yang sebesar-besarnya, dan dengan proses berliku-liku mencari jalur supaya bisa bertemu Saddam Hussein, sang presiden Irak.

Setelah proses dalam hitungan bulan, Hyundai mendapatkan kerjasama dengan Irak, dan setelah mulai melakukan proyek dan memasukkan banyak rombongan pekerja, pecahlah perang Irak-Iran, dan proyek menjadi berantakan. Lee sang CEO dan Chung sang founder Hyundai, mendatangi proyek-proyek dan menemui para pekerja mereka di antara desingan peluru dan bom.

Ketika mendatangi proyek dengan kondisi hiruk pikuk tersebut, Lee mengibaratkan Chung, sang founder Hyundai kembali menjadi jendral lapangan ketika memimpin berbagai proyek di Hyundai, peran yang dilakoninya bertahun-tahun silam dan terlihat menikmatinya.

Kisah Lee Myung-Bak menembus pasar Uni Soviet juga tidak kalah seru dan beberapa negara lainpun demikian, belum lagi harus berurusan dengan pemerintah di Korsel yang juga pernah mengalami beberapa pergantian pemerintahan.

Ketika terpilih menjadi walikota Seoul dan memiliki program untuk membuat Seoul baru, banyak orang juga mengatakan mustahil. Tetapi Lee Myung-Bak, memiliki prinsip yang dia ungkapkan, “Aku percaya pada 1 persen peluang. Intinya, jika ada peluang sukses sebesar 1 persen saja, sebuah proyek dapat diwujudkan dengan tambahan kerja keras”.

Wow, ini prinsip yang luar biasa, dan Lee Myung-Bak, sudah membuktikan sedari masa kecil dia hidup sengsara, dan sukses membangun Hyundai, dan menjadi walikota Seoul tahun 2002-2006, dan menjadi presiden Korea di tahun 2007-2012.

Saya langsung merefleksikan kepada diri sendiri, selaku pemimpin usaha, apa yang saya lakukan, jelas masih sangat jauh dibanding mereka di Hyundai, dan itulah yang membuat perusahaan ini bisa sebesar sekarang. Di zaman sekarang tentu memiliki tantangan yang berbeda dibanding 20-30 tahun lalu. Tetapi prinsip percaya pada 1 persen peluang bisa diwujudkan dengan tambahan kerja keras, saya yakin masih sangat relevan di zaman apapun.

Setiap kali kita mulai berpikir suatu hal yang kita lakukan terlalu berat atau muncul kemalasan, ada baiknya kita ingat perjuangan para petinggi Hyundai di atas.

Dan setiap kali kita sudah terasa akan memulai ataupun menyerah terhadap sebuah proses, mari kita ingat nasehat dan prinsip Lee Myung-Bak “Aku percaya pada 1 persen peluang. Intinya, jika ada peluang sukses sebesar 1 persen saja, sebuah proyek dapat diwujudkan dengan tambahan kerja keras”.

Mustofa Romdloni
MR Corporation
@tofazenith


Sebarkan berita baik ini