Sebarkan berita baik ini

Zainal Abidin

Zainal Abidin (Jay Teroris)
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA

Suatu hari, seorang teman yang sedang merintis karir di bidang training bercerita pada saya. Ia merasa kesulitan memenuhi permintaan sebuah perusahaan event organizer, yang menginginkan foto dirinya. Untuk pakaian, tidak ada syarat khusus. Juga untuk urusan make up. Foto itu jadi sulit dibuat, karena foto yang diminta adalah foto dirinya sedang tersenyum.

Dan bagi teman saya, itu syarat tunggal yang sangat berat. Berkali-kali berfoto ria, dengan aneka gaya, foto yang diinginkan tidak kunjung didapatkan. Senyumnya di foto itu, dikatakan oleh event organizer sebagai senyum yang dibuat-buat. Tidak alami.

Dalam keseharian, ia bukan orang yang pelit senyum. Sayangnya, ia memang bukan seorang aktor, yang mampu tersenyum dalam film yang dibintanginya, sekalipun perasaannya sedang sedih. Saat itulah ia baru tahu, betapa sulitnya tersenyum dengan tulus, apalagi tanpa sebab. Betapa susahnya senyum yang keluar dari lubuk hati terdalam dan tidak dibuat-buat.

Tidak puas mengambil gambar di rumah, dengan fotografer amatiran, Iapun mencoba untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Ia pun mendatangi studio foto. Selama setengah jam sesi pemotretan, akhirnya ada beberapa foto yang menurutnya pribadi, bisa dipakai. Akhirnya, foto itupun dicetak karena terpaksa. Sayangnya foto itupun ditolak karena masih kurang sesuai dengan pesan sponsor.

Tahu bahwa ada temannya yang pernah berprofesi sebagai fotografer, ia pun datang ke saya. Dan teryata ia datang pada orang yang tepat. Hanya dalam 10 menit, beberapa foto separuh badan dengan senyum tulus tersungging di bibirpun bisa diperoleh.

Apa yang saya lakukan? Hanya hal-hal sederhana. Saya tidak menggunakan kamera canggih. Saya hanya menggunakan kamera pocket digital biasa. Saya pun tidak melakukan pemotretan di dalam studio. Juga tanpa sinar lampu buatan. Saya bahkan melakukannya di jalanan, di bawah sorotan cahaya terik matahari di tengah hari bolong.

Kawan saya tadi, hanya saya beri lima lembar pecahan seribu rupiah, dan saya minta padanya untuk memberikan lembaran uang tersebut kepada anak-anak jalanan. Ternyata, senyum anak-anak jalanan yang menerima uang yang jumlahnya tidak seberapa itu, mampu memunculkan senyum tulus dari bibirnya, yang selama ini tidak pernah bisa muncul dari wajahnya secara spontan.

Terakhir, saya minta ia berfoto bersama anak-anak jalanan itu, dan sampai saat ini, foto dirinya yang sedang tersenyum itulah yang terus dipakai sebagai sarana promosi.

Konon kabarnya, di Rusia ada sekolah khusus untuk tersenyum. Konon pula, biayanya sangat besar. Meskipun demikian, banyak orang berminat bersekolah di situ. Tapi jangan kuatir. Anda tak perlu keluar uang banyak untuk bisa tersenyum.

So, kalau anda sulit tersenyum, berbagi lah. Jangan berpikir soal jumlah. Sedikit di mata anda, mungkin tidak ada artinya. Tapi sangat boleh jadi bisa membahagiakan orang lain yang kurang beruntung. Dan, rasakan sensasi kebahagiaan di dalam diri, ketika orang lain merasa bahagia akibat pemberian anda!

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
HeadMaster SekolahMonyet.com
Direktur Social Entrepreneur Academy Dompet Dhuafa


Sebarkan berita baik ini