Sebarkan berita baik ini

teddy rachmatSetiap orang pasti ingin sukses. Namun, apa kesuksesan itu sebetulnya ? Bagi seorang pengusaha, sukses mungkin berarti mendapatkan deal yang menguntungkan. Namun, seorang pengusaha yang lain boleh jadi baru merasa sukses jika usahanya bisa berjalan, berkembang, berkelanjutan, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang, ukuran kesuksesan memang berbeda-beda bagi setiap orang.

Pencapaian adalah buah perjalanan yang panjang, seorang Teddy Rachmat sangat mensyukuri karena apa yang ia sudah dapatkan jauh melebihi apa yang ia impikan sewaktu masih muda. Dahulu, selepas menikah ia sempat berandai-andai kepada istrinya bahwa kalau mereka bisa mempunyai US$500 ribu saja, itu sudah cukup dan sangat menyenangkan, sama sekali tidak punya impian menjadi orang yang kaya raya.

Sebagai manusia biasa sama seperti orang lain pada umumnya, Teddy Rachmat juga mempunyai dua dorongan besar yaitu Ketakutan (Fear) dan Keinginan memiliki (Greed). Untuk dorongan yang pertama ia takut tidak dihargai orang hal ini cukup menghantui masa mudanya, gara-garanya di depan matanya sendiri, ia pernah melihat anak mantan orang kaya yang menangis-nangis meminta pekerjaan, serta ketakutan jika tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang tinggi, dua faktor dorongan tersebut diatas yang mendorongnya untuk bergerak maju.

Sepanjang usianya yang hampir menginjak 70 tahun, banyak sekali pembelajaran yang Teddy dapatkan, pembelajaran tersebut tak hanya didapatnya lewat cerita kesuksesan tetapi juga pengalaman kegagalan. “Untuk menjadi bijak orang perlu mengalami kesuksesan dan kegagalan sekaligus. Kita hanya bisa menghargai hangatnya sinar matahari jika pernah basah kuyup kehujanan” ujar Teddy Rachmat. Berikut ini sepuluh pembelanjaran praktis yang kami saya rangkum, semoga bermanfaat.

1. Pay The Price
Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesusksesan, salah satunya adalah waktu bagi keluarga yang berkurang, terutama saat anak-anaknya masih kecil.

2. Keep It Simple
Orang-orang hebat berpikir simpel namun mengena! Mereka tidak berpikir rumit, kesimpulan itulah yang didapatkan Teddy dari pengalamanya bekerja untuk para konglomerat besar Indonesia, yang notabene pernah menjadi bosnya di Astra. Kepintaran mereka utamanya selalu berhasil membuat perumusan yang sederhana.

3. Pilih Lingkaran Yang Mendukung
Orang-orang hebat akan menciptakan lingkungan yang memunculkan ide segar. Mengelola bisnis adalah bagaimana mendapatkan ide-ide terbaik dari siapapun, ide baru adalah aliran darah sebuah organisasi, bahan bakar yang membuat mesin berjalan.

4. Reputasi adalah segalanya
Personal Guarantee Teddy diterima oleh pihak perbankan karena ia selama ini membangun reputasi sebagai orang yang kredibel dan dapat dipercaya. Reputasi melebihi uang dalam jumlah berapapun sebagai prasyarat membangun bisnis.

5. Jatuh? Bangun!
Sukses tak selalu dibangun diatas sukses, Justru sukses seringkali dibangun diatas kegagalan, frustasi dan kadang-kadang malah bencana, yang penting jangan pernah menyerah.

6. Mengenali peluang, menghitung resiko
Seorang pengusaha yang tak bisa mengenali peluang akan kehilangan kesempatan berharga, biasanya kesempatan ini hilang karena seseorang merasa takut. Pengusaha yang pintar bisa mengenali peluang sekaligus menghitung resiko, ibarat penyelam profesional, arus deras dan kedalaman 100 meter tak akan membuatnya panik. Makin siap seorang pebisnis, makin besar resiko yang ia bisa ambil.

7. Stop Worryng
Tak selamanya orang kaya bisa tidur nyenyak. Teddy pun terkadang merasakan hal yang sama , sleepless night. Kecemasan adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, semestinya hal itu tidak menjadi satu-satunya yang ada dalam pikiran kita saat menghadapi persoalan.

8. Bertindak atas dasar benar atau salah
Pemimpin yang baik semestinya berpikir bukan atas dasar untung atau rugi tapi atas benar atau salah, karena kepintaran tanpa kebajikan justru cenderung menggiring seseorang untuk melihat sesuatu dari sisi untung atau rugi.

9. Tough Love
Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup susah. Namun bukan berarti anak harus serta merta dimanjakan, rasa sayang berlebihan orang tua, alih-alih mendatangkan kebaikan yang mendewasakan, justru malah merusak perkembangan anak itub sendiri.

10. Welas asih dan falsafah sungai.
Agar usaha bisnis terus diberkahi, semakin banyak yang didapat, semakin banyak pula yang harus disumbangkan kembali. Bukan menjadi seperti empang yang bau karena hanya menampung air yang masuk dan tak  mengeluarkanya kembali, bersikaplah seperti sungai yang tetap bersih dan jernih karena secara alami mengalirkan airnya kembali ke tempat – tempat yang semestinya.

T. P. Rachmat sang pembelajar sejati yang selalu berupaya mencerap pengetahuan yang bisa ia dapatkan dari berbagai macam bacaan maupun pengalaman professionalnya sebagai karyawan, CEO dan pemilik perusahaan.

Muhammad Ammarullah K/Ully
Ketua TDA Ternate


Sebarkan berita baik ini