Sebarkan berita baik ini

Ibrahim

Ibrahim M Bf
Sekretaris TDA Bandung

Saat ini saya sedang baca buku ‘3rd Alternative’, penulisnya Stephen Covey.

Sebenarnya ada dua pengarang yang benar-benar mempengaruhi saya, yang pertama Stephen Covey, dan yang kedua Dale Carnegie. Stephen Covey mengajarkan 7 perilaku orang yang efektif, sedangkan Dale Carnegie mengajarkan bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang.

Kembali lagi ke buku 3rd Alternative. Sejarahnya kenapa buku ini akhirnya saya baca, awalnya saya di Gramedia lihat-lihat buku, eh ketemu buku yang ditulis oleh Stephen Covey. Karena mata saya pertama kali hanya tertuju di nama penulisnya membuat saya langsung mengambil buku.

Ketika buku sudah saya beli, sebulan kemudian saya coba baca judulnya, ‘3rd Alternative’ yaah kok kurang menarik ya judul bukunya. Saya berpikir, dan beralasan ‘saya setiap hari setiap saat di pekerjaan atau di luar pekerjaan berpikir alternatif ketiga”, akhirnya dengan enggan saya memulai membaca buku ini karena sayang sudah terlanjur terbeli, dengan pikiran yang sudah dipenuhi ‘ya.. saya sudah melakukan cara ini dari dulu’. Di saat mulai membacanya ketika sudah memasuki tengah bab satu tentang penjelasan apa itu 3rd Alternative (halaman ke 100an), pikiran saya langsung berubah, waw, ini cara baru untuk bersinergi yg benar-benar sinergi. Sinergi yang di atasnya level win – win solution.

Jika win – win solution adalah solusi dengan pendekatan kompromi yang membuat kedua belah pihak puas. Namun sinergi menggunakan pendekatan pencarian solusi yang kedua belah pihak merasakan suasana kegembiraan dan keceriaan. Kenapa solusi sinergi bisa mencapai suasana demikian? Kompromi adalah pendekatan yang mencari sebuah solusi yang kedua belah pihak bersedia untuk menghilangkan sebagian yang diinginkan masing-masing pihak untuk mendapatkan titik temu solusi, sedangkan sinergi, menggunakan pendekatan mencari sebuah solusi yang kreatif yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, yang keinginan-keinginan kedua belah pihak tidak ada yang dihilangkan, bahkan masih utuh.

Untuk mencapai sinergi, kita perlu tahu dulu apa itu Stimulus Vs Respon.

Di artikel kali ini saya mengulas tentang salah satu bagian dari buku yaitu stimulus vs respon. Stimulus vs respon pernah dibahas juga di buku-bukunya Stephen yang terdahulu. Apabila kita ingin berubah ke perilaku yang lebih efektif, kita perlu mengerti dulu tentang cara kerja stimulus vs response

Pada tubuh terdapat panca indera, melalui panca indera ini kita menerima stimulus dari luar dan akhirnya tubuh melakukan response. Misalkan, apabila telapak tangan kita letakkan di atas lilin yang menyala 5 cm, sudah pasti kita dengan cepat tarik tangan kita menjauh. Kita melakukan respon menarik tangan cepat karena kita mendapatkan stimulus rasa panas di tangan kita. Contoh yang lainnya, ada anjing menggonggong sambil berlari mengejar kita, tahu bahwa ada anjing mengejar kita, kita akhirnya lari menjauh dari anjing tersebut. Anjing menggonggong adalah stimulus yang indera telinga kita dengar, kemudian kita memberikan respon menoleh melihat ke sumber suara tersebut. Indera penglihatan kita menerima stimulus bahwa anjing itu berlari mengejar kita, akhirnya tubuh kita memberikan respon untuk berlari menjauh.

Begitulah kerja stimulus vs respon pada tubuh kita. Panca indera menerima stimulus, dan tubuh kita memberikan respon.

Ternyata perilaku dan sikap kita mempunyai kecenderungan yang sama seperti indera kita, yaitu mengikuti pola stimulus vs respon. Ketika kita menerima stimulus perlakuan dari luar, biasanya kita memberikan respon balik dari perlakuan tersebut dalam bentuk sikap dan perilaku kita. Contohnya, apabila ada teman kita melecehkan harga diri kita, kita akan memberikan perilaku bertahan diri, yaitu dengan melecehkan balik teman kita. Contoh yang kedua, apabila ada partner atau tim kerja kita melakukan kesalahan yang mengakibatkan masalah besar, yang masalah tersebut membuat kita jadi sangat kesal, akhirnya kita memberikan respon memarahi habis-habisan orang tersebut sampai menyesal.

Pertanyaannya, apakah respon kita sudah benar? Yang terjadi, pada contoh pertama, ketika kita melecehkan balik harga diri teman kita, yang ada malah hubungan pertemanan akan renggang dan putus, yang akhirnya memutus banyak hubungan, hubungan bisnis, hubungan teman, hubungan silaturahmi. Kemudian pada contoh kedua, ketika tim kerja kita melakukan kesalahan, lalu kita memarahi, hasilnya tim kita merasa bersalah, dan berdampak motivasinya menurun dalam jangka waktu yang panjang, yang akhirnya merugikan kita, karena kita tidak memiliki partner yg produktif lagi, dan kalau bekerja, ketakutan, tidak bisa maksimal, takut membuat kesalahan.

Stephen menjelaskan, bahwa perilaku manusia kadang terjebak di stimulus vs respon, berbeda dengan indera, apabila indera menerima stimulus, tubuh sudah mempunyai kamus respon yang harus dilakukan tanpa berpikir. Sedangkan pada sikap dan perilaku, masih ada ruang bebas untuk memberikan respon apa. Namun kita biasanya terjebak mengandalkan kamus-kamus respon yang hanya kita punya, celakanya, kamus-kamus responnya seperti contoh perilaku di atas.

Inline image 1

Pada stimulus vs respon perilaku kita, kita mempunyai ruang kebebasan untuk berpikir dan memilih. Kita bisa memilih apa respon yg ingin kita berikan terhadap stimulus yang kita terima. Dengan kebebasan memilih ini, kita bisa menciptakan respon yang berdampak positif yang tidak merugikan kedua belah pihak. Yang akhirnya dengan kita membiasakan untuk memberikan ruang untuk memilih, kita satu langkah untuk menciptakan sinergi.

Kita coba menggunakan contoh di atas, contoh yang pertama, ketika teman kita melecehkan harga diri kita, sebelum langsung memberikan respon, kita berpikir, “kok saya dilecehkan? kenapa dia melakukan itu? respon positif apa yg ingin saya berikan?” kemudian, kita bisa mengontrol & memberikan respon yang positif, misalkan seperti menanyakan kepada teman kita, ‘saya minta maaf, saya ingin dengar dari Anda, kenapa Anda berpikir demikian?’ Dan respon inilah yg menjadi pintu untuk meluluhkan hati teman kita, dan akhirnya teman kita terbuka kepada kita, serta menjadikan bahan untuk evaluasi diri kita ke yang lebih baik.

Contoh yang kedua, tim kita melakukan kesalahan dan menyebabkan masalah besar, daripada kita langsung memberikan respon seperti contoh di atas sebelumnya yang mengakibatkan dampak negatif, kita luangkan pikiran kita untuk memilih respon “respon positif apa yang ingin saya berikan, agar bisa mengefektifkan semua yang bisa menyelesaikan masalah?” Dengan berpikir seperti ini, akhirnya kita bisa memberikan respon yang efektif, misalkan berbicara ke tim kita ‘Bagus… kamu saat ini belajar hal baru, bisa ceritakan lebih detil masalahnya? Apa yang kamu pelajari? Tolong kamu selesaikan masalah ini, dan apa yang bisa saya support?’ dengan respon seperti ini, tim kita mengakui kesalahan yang dilakukan, mau untuk menyelesaikan dan belajar dari masalahnya, dan motivasi serta produktivitas tim kita tetap tinggi.

Rekan, di antara ruang stimulus vs respon ini kita bisa menciptakan sinergi. Daripada kita memberikan respon negatif seperti memarahi, menyindir, menggampar, mencaci maki, menyalahkan dsb yang mengakibatkan sinergi tidak terjadi dan merugikan kita juga. Kita biasakan “5 detik” untuk berpikir dan memberikan respon positif, yang akhirnya sinergi terjadi dan kegembiraan muncul.

 

Ibrahim M Bf
Sekretaris TDA Bandung

 


Sebarkan berita baik ini